Petualangan Baru di Barcelona Bersama Ernesto Valverde?

Bagi para suporter FC Barcelona, bulan Mei 2017 menjadi sebuah bulan yang penting. Di bulan kelima tersebut, Blaugrana gagal mengejar ketertinggalan dari Real Madrid di papan klasemen sementara Liga Spanyol, sehingga sang rival utamanya itu merebut trofi ke-33. Kini, setelah gagal di Liga Champions pada bulan lalu, Barca dihadapkan dengan satu peluang terakhir untuk menutup musim dengan piala Copa del Rey andai mampu mengalahkan Deportivo Alaves. Kemudian, bulan Mei akan ditutup dengan pengumuman nama pelatih baru.

Saat ini kontrak Luis Enrique sendiri akan kadaluarsa per tanggal 1 Juni nanti dan Ia telah menolak untuk memperpanjangnya pada Maret silam. Sebelumnya keputusan Enrique ini sudah diprediksi setelah Ia mengulur-ngulur waktu untuk memperpanjang kontrak sejak tahun lalu. Kala itu pelatih kelahiran Gijon ini mengaku sedang fokus ke tim dan tidak ingin terganggu urusan kontrak. 

Nama-nama entrenador jempolan kemudian digadang-gadangkan sebagai pengganti. Awalnya banyak nama disebut namun kemudian mengerucut menjadi segelintir dengan pakem: yang mantan pemain FC Barcelona. Maka Ronald Koeman, Frank De Boer, Eusebio Sactristan, Ernesto Valverde serta Oscar Garcia. Tapi ada juga nama pelatih non eks pemain, seperti Mauricio Pochettino, Jorge Sampaoli dan Thomas Tuchel. 

Pemilihan pelatih dengan syarat mantan pemain tentu bukan karena jaminan dominasi di kancah domestik dan Eropa. Sebab Carles Rexach pernah gagal mempersembahkan satu pun piala kala melatih. Tapi memang harus diakui kesuksesan Johan Cruyff, Josep Guardiola. almahrum Tito Vilanova dan Luis Enrique menjadi daya tarik romantisme yang tidak bisa dipungkiri. Bahkan Los Blancos pun mencoba mengikuti romansa tersebut bersama Zinedine Zidane. 

Dewasa ini nama yang santer diberitakan ialah Ernesto Valverde, yang sudah mengucapkan perpisahan dengan Athletic Bilbao karena juga menolak perpanjangan kontrak. Hingga saat ini pelatih yang pernah menjadi salah satu kandidat kala Tata Martino hengkang ini pun tidak mengkonfirmasi secara pasti berita tersebut, meski Ia mengakui tidak menutup kemungkinan untuk hijrah ke kota Barcelona atau mengambil libur selama satu musim. Kubu Azulgrana sendiri baru akan mengumumkan nama pelatih pada 29 Mei nanti, sehari setelah final Copa del Rey.

Dengan rumor yang kian mengencang, berbanding lurus bersamaan dengan tanda tanya besar. Apakah Valverde mampu memberikan kesuksesan? Apa yang Ia akan tawarkan ke Barcelona? Bagaimana rekam jejak dia?

Pertanyaan-pertanyaan di benak kepala culers kian mengembang, namun satu yang pasti: siapapun pelatih yang ditunjuk, tidak akan pernah ada jaminan untuk menjadi juara. Tengok saja Josep Guardiola yang mampu membawa Barca dan Bayern Munich mendominasi di kompetisi domestik, namun harus merasakan untuk pertama kalinya kegagalan meraih trofi di musim perdana bersama Manchester City. Terlalu banyak faktor yang menjadi penentu kesuksesan atau tidak, yang berkembang dengan seiring berjalannya waktu. Namun memang harus diakui, ide yang dibawa sang pelatih mempunyai peranan dalam kesuksesan. Kecil kemungkinan pelatih yang tidak kompeten bisa meraih keberhasilan meski berisikan pemain-pemain bintang.

Di musim 2014/15 Barcelona berhasil menyabet tiga piala mayor sekaligus, yaitu titel Liga Spanyol, Liga Champions dan Copa del Rey. Sebuah pencapaian yang luar biasa bagi Enrique di musim pertamanya. Wajar jika kemudian puja-puji dan sanjungan dialamatkan kepada eks punggawa Sporting Gijon, Real Madrid dan Barcelona itu. 

Pada musim keduanya Enrique memberikan tambahan empat piala kepada lemari trofi dengan menjuarai liga, Copa, Super Eropa dan FIFA Club World Cup. Fantastis? Tidak diragukan lagi. Akan tetapi ada satu trofi yang gagal membuatnya menyamai rekor sextuplete Josep Guardiola, yaitu Piala Super Spanyol. Ya, pada Agustus 2015 Barca harus mengakui keunggulan Athletic Bilbao karena kalah aggregate 5-1. Bahkan di San Mames, anak-anak Katalunya harus dibenamkan empat gol tanpa balas dan hanya mampu mencuri satu gol di Camp Nou, yang berkesudahan imbang. 

Sudah menjadi rahasia umum jika San Mames merupakan salah-satu stadion yang sangat sulit untuk ditaklukan oleh Barcelona. Meski Lionel Messi cs mampu mengalahkan Athletic di kandang, namun laga dipastikan berlangsung sengit sepanjang pertandingan. Kesalahan-kesalahan elementer dan kemampuan tiap individu lah yang menjadi pembeda bagi kedua kesebelasan. Tapi di pertemuan pertama ajang Piala Super Spanyol musim lalu, Athletic tampil dominan di bawah racikan Valverde. 

Di laga tersebut pria berusia 53 tahun itu menerapkan formasi langganan, yaitu 4-2-3-1. Di sisi lain Enrique harus menurunkan pemain-pemain lapis kedua dengan lima pemain cadangan usai memenangi Piala Super Eropa kontra Sevilla. Di belakang ada Marc Barta dan Thomas Vermaelen, yang baru tampil di awal laga untuk kedua kalinya. Dani Alves tetap di kanan, bersama Adriano Correira di sisi kiri, menggantikan Jeremy Mathieu. Andres Iniesta dan Sergio Busquets tidak bisa bermain karena kebijakan rotasi, dan Xavi Hernandez sudah hengkang ke Al-Sadd. Gantinya ada Javier Mascherano bersama Sergi Roberto dan Rafinha. 

Lineup ini ternyata menjadi petaka bagi Enrique karena Bilbao langsung menekan sejak menit pertama, dengan tujuan membuat para pemain Barca memainkan bola di area sendiri. Tanpa ada Xavi dan Busquets, Barca kesulitan untuk mengalirkan bola ke depan. Andai pun bisa, Les Leones sudah berada di belakang untuk menjaga agar bola tidak masuk ke kotak penalti dengan formasi 4-4-2 atau 4-4-1-1.

Permainan pressing ketat sejatinya sudah ada sejak Marcelo Bielsa menjadi entrenador di Zuri-gorriak. Bahkan kala itu pertemuan antara Barca racikan Guardiola melawan Athletic arahan Bielsa menjadi duel permainan menekan yang menghabiskan seluruh tenaga. Bedanya, Barcelona kerap memainkan bola ketika masuk ke kotak penalti, sedangkan Bilbao langsung memasukkan lima pemain ke kotak penalti untuk memperbesar kemungkinan meraih umpan dan membobol gawang.

Perbedaan dalam penyelesaian akhir ini bisa menjadi tanda tanya perihal trio MSN di musim depan, sebab jika berbicara soal pressing yang ketat dan dinamis, Barca sudah menguasainya dengan fasih. Namun tidak ada salahnya menyegarkan kembali taktik tersebut di musim depan. Tentu pemain-pemain seperti Alexis Sanchez atau Mesut Ozil di Arsenal tidak akan mungkin bisa membantu banyak sebab kedua pemain itu sempat sorotan karena karena lebih banyak berjalan santai kala rekan-rekannya bertahan. Dengan melihat permainan di Bilbao, maka tidak akan menjadi sebuah keheranan andai wing-back, full-back, attacking midfileder atau gelandang akan langganan maju ke depan, namun dengan bantuan pemain-pemain lainnya yang menjaga agar serangan balik bisa dijinakkan secepat mungkin.

Patut ditilik pemain-pemain yang masuk di bursa transfer musim panas tahun ini untuk mengetahui secara terperinci taktik yang akan diterapkan oleh Valverde. Sebab skuat Barca saat ini sudah cukup kompetitif dan mampu menterjemahkan dengan baik. Tidak semua memang. Ada segelintir yang akan kesulitan. Tapi kebanyakan akan mengalami adaptasi yang mudah karena terbiasa dengan passing-passing vertikal ala Luis Enrique. 

Keraguan terhadap Valverde mungkin juga muncul di dalam pikiran, sebab sejauh ini Ia baru mempersembahkan trofi Super Spanyol saja di Athletic. Sisanya tiga titel Liga Yunani dan dua Piala Yunani bersama Olympiacos. Argumen tersebut bisa difahami namun di saat yang sama tidak bisa dilupakan bahwa permainan menekan penuh membuat stamina para pemain terkuras habis. Di situ lah gunanya pemain-pemain cadangan karena bisa menjadi nafas kedua bagi tim, andai kualitasnya hampir setara atau tidak terlalu terpaut jauh. 

Berbicara soal pemain cadangan, maka ada semacam kekhawatiran jika melihat 25 pemain di tubuh Barcelona saat ini. Andre Gomes, Paco Alcacer, Lucas Digne, Arda Turan, Aleix Vidal dan Jeremy Mathieu sempat membuat publik Camp Nou kecewa. Jangan lupa, di musim panas nanti Thomas Vermaelen akan kembali ke Barcelona karena AS Roma batal mempermanenkan pesepak bola asal Belgia itu. 

Tugas berat berada di bahu Robert Fernandez, sebab Ia diharuskan mencari pemain-pemain yang bisa mengakomodir keinginan Valverde andai sang pelatih ingin menerapkan taktik menekan. Gagal melakukannya, maka siap-siap saja minim piala



Primer El Barca!
*) ditulis sebelumnya di @Opermedia

1 komentar:

  1. Sekarang barca (lagi) gemuk. Susah berlari kencang seperti dulu. Jor2an beli pemain cuma untuk menghiasi bangku cadangan. Dan terlalu beraninya ter stegan bermain di semua kompetisi. Tidak seperti kala valdes dan pinto berbagi jam main atau musim sebelumbya bravo-stegan. Rotasi perlu tapi tak usah membeli banyak pemain. Gunakan lamasiamu. Terlalu banyak bintang muda terbuang disana☹

    BalasHapus