FRANK RIJKAARD; MEMBANGUN ULANG FC BARCELONA

Salah satu alasan kenapa Pep tidak memperpanjang kontraknya adalah karena tekanan yang dialamatkan kepada Pep. Bagaimana Pep menjadi bertambah tua dan botak, hanya dalam waktu singkat, 4 tahun. Namun, apakah benar bahwa menjadi pelatih Barcelona adalah salah satu pekerjaan dengan tingkat stress yang tinggi? Sepertinya memang benar begitu adanya.

Salah satu pelatih yang merasakan tekanan yang begitu tinggi adalah Frank Rijkaard. Pelatih asal Belanda ini ditunjuk menjadi pelatih Barca ketika Laporta menduduki kursi kepresidenan di tahun pertamanya yaitu di tahun 2003. Tidak begitu impresif raihan Rijkaard di tahun pertamanya. Meski di awal musim 2003/04 Rijkaard menjual 13 pemain dan membeli  11 pemain, keajaiban memang membutuhkan waktu. Kekalahan Rijkaard di Camp Nou atas Real Madrid membuatnya menjadi sasaran empuk para pers. Bagaimana para pers melabeli Rijkaard sebagai pecundang karena kalah dari Carlos Queiroz. Lebih dari itu, salah satu gol tercipta dari kaki Ronaldo Luis, yang notabene mantan pemain Barcelona dibawah asuhan sir Bobby Robson di musim 1997/98.


6 bulan pertama dari era Rijkaard bagaikan neraka. Barcelona mencicipi posisi 16 klasemen sementara. Sesuatu yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Para fans menginginkan Laporta dan Rijkaard untuk mundur. Tekanan mundur ini adalah semacam kumulatif dari berbagai kontroversi yang ditebarkan oleh Laporta dan impian dari para fans untuk juara. Dibutuhkan strategi yang tepat serta kesabaran agar Barcelona kembali kompetitif seperti dahulu kala dan terbebas dari hutang. Pada akhirnya Barcelona finish di posisi 2 klasemen akhir, hanya terpaut 5 poin dari Valencia yang menjuarai la liga. Di akhir musim 2003/04, para fans agak sedikit berbangga hati dengan raihan tersebut. Apalagi di bulan April Barcelona sukses membalaskan kekalahan di Camp Nou dengan cara mengalahkan Real Madrid di Santiago Bernabeu dengan skor 1-2 dan mengalahkan Espanyol di Camp Nou dengan skor 4-1 satu minggu kemudian. 


Rijkaard yang pada awalnya adalah opsi ketiga Laporta dalam perekrutan pelatih setelah Guus Hiddink dan Ronald Koeman, sempat ragu untuk melanjutkan melatih Barcelona. Bahkan, di bulan Desember 2003 Rijkaard sempat akan mundur karena berbagai kekalahan mendera Barcelona. Namun Laporta mempercayainya, Cruyff pun mempercayainya. 

Di awal musim 2004/05, Rijkaard membeli beberapa pemain yang cukup berkualitas. Samuel Eto'o, Ludovic Giuly, Juliano Belleti, Deco, Henrik Larsson, Edmilson serta Maxi Lopes di jeda transfer January 2004. Di musim tersebut, Messi dan Ruben mendapat kesempatan untuk bermain di tim utama dari Barca B. Rijkaard di tahun keduanya membuat kerangka tim yang berpusat kepada Ronaldinho. Valdes menjadi opsi kiper pertama setelah pada musim sebelumnya kiper fenomenal asal Turki Rustu Rekber berselisih dengan Rijkaard. Bukan perselisihan yang besar koq diantara mereka berdua. Perselisihan ini terjadi karena Rustu cidera di tur pra-musim dan Valdes mendapat kesempatan. Plus Rustu tidak bisa berbicara bahasa Spanyol yang membuatnya mengalami kesulitan dalam berkomunikasi untuk mengkoordinasi pertahanan dengan barisan belakang. :D

Meski sama-sama dari Belanda, namun Rijkaard tidak mengikuti jejak pendahulunya di Barcelona, Luis van Gaal. Van Gaal sebelumnya membanjiri skuad Barcelona dengan pemain-pemain asal Belanda. Memang ada beberapa pemain yang memiliki kualitas, namun yang medioker pun banyak. Namun tidak berarti pembelian Rijkaard selalu berhasil. Tapi setidaknya Rijkaard tidak menutup mata terhadap kualitas pemaind ari negara lain selain Belanda. Berbeda dengan Van Gaal yang selalu menciptakan suasana panas di konfrensi pers, Rijkaard terkenal karena kesantunannya. Bahkan di konfrensi pers terakhirnya, Rijkaard mendapat standing ovation dari para jurnalis yang hadir.

 "Rijkaard berbicara sangat pelan sampai-sampai kita mesti mendengarkan secara seksama terhadap apa yang dia katakan. Dan ketika kita mendengarkan, maka semua ucapannya adalah benar." - Ronaldinho

Tidaklah mudah menjadi pelatih Barcelona. Rijkaard pernah membuat keputusan-keputusan yang meragukan. Dan ketika semua keputusannya salah, dia akan mengambil tanggung jawab. Bahkan ketika kesalahan bukan karena dia, Rijkaard akan menyalahkan dirinya. Rijkaard memang terkenal selalu melindungi anak asuhnya dari serangan pers. Board room pun selalu dibela Rijkaard. Namun Rijkaard tidak pernah memuji berdasarkan individu pemain. Dia mencegah kecemburuan sosial di dalam ruang ganti pemain. Rijkaard pun menolak sistem "bintang lapangan" diantara pemainnya dan menganggap setiap pemain vital bagi tim.

Ketika Menenangkan Ronnie Yang Emosi

Di musim 2004/05 dan 2005/06, Rijkaard sering memakai formasi 4-1-2-2-1. Suatu sistem yang membutuhkan kreatifitas lini depan dan menciptakan kerjasama yang optimal antara pemain tengah dan pemain depan. 4 orang pemain bertahan pun sering bermain tinggi di tengah lapangan agar bisa menekan pemain lawan dan menciptakan ruang yang cukup besar antara pemain bertahan dengan kiper. 
Rijkaard fokus dalam mengaplikasikan ball possession dan pressure kepada pemain lawan untuk menciptakan kesalahan yang akan  menuntun kepada counter-attack. Skema permainan yang sangat berbeda dengan Pep yang bermain passing-passing pendek dan membentuk serangan dimulai dari lini belakang. Wajar jika Pep memiliki kesamaan dengan Rijkaard. Karena Pep diwajibkan memakai strategi Rijkaard ketika Pep masih melatih Barca B. Hasilnya, Pep mengetahui kekurangan dari strategi Rijkaard dan melengkapinya. Rijkaard dan Pep adalah bekas anak didik Cruyff. Namun strategi yang dipakai keduanya berbeda dari Cruyff. 

"..you gain many impressions from the past. You still have it in your mind when you become a coach, and if something happens you can recall how it was dealt with. But I strongly believe that you cannot copy anyone. The decisions that a great coach made years ago will not necessarily work today." Frank Rijkaard


Kreatifitas yang diinginkan oleh Rijkaard terletak ditangan Ronaldinho, sedangkan untuk penyelesaian akhir, menjadi tanggung jawab Samuel Eto'o. Eto'o pada musim 2004/05 tidak mendapatkan gelar el pichichi meski memiliki jumlah gol yang sama dengan Diego Forlan yaitu 25 gol. Namun di musim 2005/06 Eto'o mendapat gelar el pichichi dengan torehan 26 gol di la liga dan total 34 gol di semua ajang. 

Musim 2007/08 adalah musim terberat Rijkaard. Di musim tersebut, Barca tidak mendapatkan satu buah gelar apapun. Kalah dari Real Madrid di Camp Nou dengan skor 0-1 pada bulan Desember 2007, kalah dari Atletico Madrid dengan skor 4-2 di bulan Maret 2008 dan kalah 4-1 di Bernabeu di bulan Mei 2008. Barca pun tersingkir dari ajang Liga Champion Eropa setelah kalah dari Manchester United di semifinal dengan aggregate 1-0Semua kekalahan ini hanya karena faktor cidera dan ego para pemain yang semakin membesar di ruang ganti. 


"Rijkaard percaya kepada saya. Dia memberi saya kesempatan untuk bermain di tim utama Barca. Dia percaya kepada kemampuan saya diatas lapangan dan menunjukan kepada saya apa yang dibutuhkan untuk menjadi seorang pria. Kami mencapai kemenangan bersama Rijkaard dan karenanya saya akan selalu mengingat dia sebagai pelatih yang penuh inspirasi. Saya akan selalu mengingat dia dan berterimakasih atas segala hal yang dia lakukan terhadap karir saya." - Lionel Messi  


Kekalahan dari Real di bulan Desember membuat dirinya di kritik habis-habisan oleh media massa. Rijkaard pun sempat berfikir untuk mengundurkan diri (lagi). Namun niat tersebut ditahan oleh Laporta. 
Ketika kalah dari MU, Rijkaard ditanya apakah dirinya akan mengundurkan diri dari Barca atau tidak. Frank hanya menjawab "saya tidak memiliki keinginan untuk meninggalkan Barcelona. Akan menjadi lain halnya jika para pemain menginginkan saya pergi, namun bukan itu masalahnya." 


Karena kekalahan 4-1 dari Real Madrid, Laporta mengumumkan bahwa Rijkaard tidak akan melatih Barcelona di musim 2008/09. Laporta berterima kasih kepada Rijkaard atas jasa-jasanya. Dan memang, sosok Rijkaard sangat vital dalam kebangkitan Fc Barcelona. Tanpa dirinya, Pep belum tentu akan menemukan formula tiki-taka. Lebih dari itu, Rijkaard terkenal karena perilakunya yang positif. A true gentleman he is. :)   
Pada pertandingan terakhirnya melawan Numancia, Dos Santos membuat hattrick dan Rijkaard menangis karena terharu. 


"For me, I don't see the need to defend myself, I'm just doing the things I do and I'm very conscious of the fact that I'm giving everything I've got." - Frank Rijkaard



PRIMER EL BARCA


Image: FrankRijkaard.org

Tidak ada komentar:

Posting Komentar